Kamis, 13-06-2024
  • Selamat Datang di Website Sekolah Adat Kampung Batara

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG LAKUKAN PELATIHAN KOPI DI KAMPUNG PAPRING

Diterbitkan : - Kategori : Berita / Cerita Kampung / Kolaborasi

Banyuwangi dikenal sebagai salah satu Kabupaten penghasil kopi terbesar untuk wilayah Jawa Bagian Timur. Seperti di Kecamatan  Kalibaru, Songgon, Licin dan Kalipuro.

Di Kalipuro sendiri, tercatat  dari tahun 2019 setidaknya terdapat lahan kopi seluas 4.397 ha dengan produktivitas rata-rata 4.717 ton. Kopi Robusta adalah jenis utama kopi yang dihasilkan dari perkebunan rakyat di Banyuwangi.

Tanaman kopi di Kecamatan Kalipuro tumbuh subur di beberapa Desa/Kelurahan. Seperti di Desa Telemung dan Bulusari, juga di Kelurahan Gombengsari dan Kelurahan Kalipuro.

Untuk wilayah Kelurahan Kalipuro, Lingkungan Secang dan Papring menjadi sentra tanaman kopi yang telah ada sejak puluhan tahun silam. Pola tanam dan perawatan yang dilakukan masih bersifat konvensional, sesuai arahan leluhur secara turun temurun.

Seiring perjalanan waktu, kondisi tanaman kopi mulai berkurang, berganti dengan tanaman lain, seperti sengon dan sebangsanya. Hal itu terjadi, karena harga kopi tak pernah meningkat, sementara bahan yang digunakan untuk perawatan selalu mengalami kenaikan harga.
Belum lagi persoalan tengkulak, pola panen purut, pengetahuan tak berimbang dengan kebutuhan ekonomi serta persoalan pasar yang seperti air laut, pasang surut. Belum lagi ancaman dari pemanasan global dan perubahan iklim yang mengganggu produksi kopi.

Tentunya, hal ini menjadi kepedulian banyak pihak. Baik secara ide mengembangkan petani kopi, pengelolaan pasca panen kopi serta tindakan real dalam bentuk penelitian di beberapa kawasan Kalipuro. Salah satunya, adalah melalui upaya pendampingan dan pelatihan yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa dari Universitas Brawijaya Malang.

Bersama dengan Guru Besar Manajemen Lingkungan Hidup Universitas Brawijaya Malang, Profesor Luchman Hakim, telah mengirimkan tim dosen dan mahasiswa UB untuk memberikan pembekalan terhadap petani kopi di Kampung Papring. Juga, melibatkan ahli Kopi Banyuwangi, cak Nidom Mas Joesron  dan owner rumah rosting dan café Albiru Banyuwangi, cak M. Emir Yusup.

Menurut profesor Luchman Hakim, populasi kopi dalam sistem agroforestri yang telah dibangun  leluhur masyarakat Papring harus terus dijaga. Karena hal tersbut bagian strategis dari upaya membangkitkan Papring sebagai sentra kopi.

Ketua LPPM UB juga menambahkan, Kalipuro berada di wilayah geografis alam dan angin yang sangat menguntungkan, perpaduan hembusan angin laut yang membawa unsur garam dan angin gunung yang mengandung unsur belerang menciptakan ciri dan karakter kopi yang khas. Keunikan lainnya, di Kecamatan Kalipuro bisa didapatkan dalam sensasi kekuatan aroma dan flavour yang khas dari kopi robustanya.

Sementara itu, ahli Kopi Banyuwangi, Nidhom Mas Joesron menyampaikan, salah satu kunci terbaik dalam budidaya kopi adalah mempertahankan populasi kopi produktif di kebun.

Pada praktik pelatihan bersama masyarakat Papring di Sekolah Adat Kampoeng Batara ini, Mas Joesron juga melakukan pola sambung kopi sebagai bagian dari budaya secara organik.

Hal ini harus terus didorong sebagai salah satu strategi dalam meningkatkan kualitas kopi Papring yang dikenal memiliki aroma khas dibandingkan dengan kopi wilayah lain di Kalipuro.

Dalam proses pelatihan yang dilakukan di salah satu kebun kopi masyarakat Papring ini, banyak pertanyaan diajukan warga dan petani kopi terkait perawatan berkelanjutan. Baik perawatan dari akar hingga pangkas cabang yang sering terabaikan. Juga, bahan apa yg ideal dalam peralatan yang digunakan, mulai pisau hingga plastik pembungkus ketika penyambungan batang.

Pada hari kedua pelatihan pasca panen yang di inisiasi UB Malang tersebut, juga menghadirkan owner rumah rosting dan café Albiru Banyuwangi, cak M. Emir Yusup, dengan materi pengelolaan kopi setelah petik atau panen.

Bersama dengan petani kopi rakyat dan Kelompok Tani Bratasena Papring yang saat ini mengelola produk kopi, menyebutkan pentingnya menguasai penyajian biji-biji kopi agar memiliki nilai jual tinggi. Kata pria yang juga produsen mesin roaster kopi ini.

Banyak teknik dasar mengolah kopi sebelum menjadi produk, sehingga hasilnya bisa meningkatkan nilai ekonomi masyarakat itu sendiri. Mulai petik kopi yang tidak asal petik, sehingga berdampak pada rasa kurang maksimal. Begitu juga cara menyangrai, ternyata ada teknik khusus.

Sehungga, perlu pengenalan dan identifikasi kopi, perambangan, sortasi, pulper, pengeringan honey process, hingga teknik brewing dan latte art. Proses ini diawali dari pemilihan biji yang berkualitas hingga pengolahannya.

Program pelatihan kopi bersama UB Malang dan petani kopi Papring, telah membuka cakrawala baru bagi masyarakat yang lelah mengelola dan merawat kopi karena masih belum ada dampak ekonomi yang jelas selama ini. Harapannya, setelah pelatihan yang di program berkelanjutan ini, bisa menambah pengetahuan dan penghasilan masyarakat Papring itu sendiri.

“Nanti kita bisa study banding ke kampung kopi yang berhasil berdaya dengan kondisi iklim dan tanah yang hampir sama dengan kampung Papring” Pungkas Profesor Luchman pada peserta yang ikut pelatihan.

Penulis : Tim Sekolah adat Kampoeng Batara
Juru Kamera : Tim Sekolah adat Kampoeng Batara

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan

Bekerjasama dengan Universitas PGRI Banyuwangi (UNIBA)

Program Hibah PKM-K, Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi T.A 2022